Bosan…

Bosan… itu yang aku rasakan sekarang. Aku bosan menjalani hidup yang terus naik turun tanpa ada jaminan dalam sehari kami gak bertengkar.

Aku Bosan !!!

Hari ini contohnya.Tadi pagi kami mengawali pagi dengan hal yang menyenangkan, tapi entah kenapa, pertanyaanku yang sebenernya gak ada tendensi apa2 justru membuat dia mengeluarkan komentar yang membosankan dan gak enak di dengar telinga.

Huuufft… bosan aku hidup dengan status siaga terus kayak gini. Dia yang nyata2 demam Facebook, tapi nuduh2 aku mantau FB-nya. Ckckck… itu sih namanya maling teriak maling. Orang diem aja diteriakin maling. Hadeeeehhh… capek ! Udah gitu merembet ke masalah HP yang tadinya sama skali gak ada hubungannya. Jengkel sebenernya ngadepin orang gak fair kayak gini, tapi apa boleh buat. Udah model cetakannya kayak gitu kali ya ?

Bosan disalah2kan terus… tanpa tendensi apapun akhirnya tetep disentil nyebelin. Heeeehhh… sedih… kok hidupku kayak gini seh ?

Sejauh-jauhnya… (Part 2)

Disakiti bertubi2 oleh pria yang sungguh2 dicintai ternyata sangat menyakitkan. Lebih baik mati dari pada hidup tertekan seperti itu. Toh dia tidak pernah memikirkan sakit yang aku tanggung dari ucapannya. Aku mungkin berdosa, tapi dalam keadaan tertekan seperti sekarang, mataku hanya tertuju pada sesuatu di sudut ruangan kamar yang bisa mengantarkan aku pada pembebasan dari segala rasa sakitku. Sesuatu yang akan memisahkan aku darinya, selamanya. Barangnya ini ditanganku, tapi belum cukup keberanianku untuk melakukannya sekarang…

Aku nggak tau sebesar apa dosa yang harus aku tanggung nanti jika aku benar2 melakukannya besok. Tapi hatiku sudah tak sanggup lagi. Aku sepantasnya dicintai, dijaga, disayang dan dilindungi. Bukan disakiti sesering ini.

Sejauh-jauhnya darimu… aku pikir hanya satu cara. Dengan ‘barang’ ini, kau bisa jauh dariku. Kau tak akan lagi menemukan pengganggu sepertiku. Kau nggak perlu marah2 lagi pada orang bodoh manja sepertiku. Sekali lagi kau sakiti aku, kau memberiku keberanian untuk melakukannya.

Aku mencintaimu, tapi luka demi luka kau sematkan padaku. Aku belajar… jangan kuatir.. aku belajar memberanikan diri melakukannya, mengakhiri semua ini dengan adil. Aku yang pergi, kau yang hidup. Aku lelah meminta padamu untuk berhenti menyakitiku, kasar padaku.

Yang kupikirkan sekarang hanya jalan itu… jalan untuk menjadi sejauh-jauhnya darimu.

Sejauh-jauhnya…

Hari ini… kembali aku mendapat kalimat tidak menyenangkan dari laki2 yang berstatus suamiku. Sungguh, tidak ku kira… dia lantang berkata seperti itu padaku. “Mengembalikanmu pada orang tuamu ? boleh2 saja.”

Astaghfirullah… Aku menyerah, Ya Allah… aku tak sanggup.

Semula aku berpikir, aku tidak ingin pergi ke jakarta. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin pergi. Aku ingin pergi sejauh2nya dari dia… sejauh2nya… semoga masih ada kesempatan bagiku untuk di kirim ke jakarta minggu depan. Aku tak sanggup… sungguh tak sanggup.

Sejauh-jauhnya…

Sejauh-jauhnya darimu…

IGD… Deja Vu…

Hari ini aku terkapar lemah di kamar, gak masuk kerja. Semalem terkapar lebih lemah lagi di ranjang Instalasi Gawat Darurat RS Sardjito. Demam tinggi, mual, muntah, pusing, badan sakit semua… whuaahhh… rasanya gak enak blass.Ditemenin suami ama mama aku ke RS. Di sana aku di suntik sekali, harus nunggu setengah jam sampe satu jam untuk melihat reaksinya. Setengah jam, 45 menit, dokter balik lagi dan rasa mual itu gak ilang2 juga. Dokter bilang, aku butuh di suntik sekali lagi. Tapi, suamiku dah menunjukkan sikap gelisahnya. Ya, dia harus balik ke Gunung Sempu lagi buat prajab. Akhirnya, dari pada dikemudian hari aku tambah dijadikan pesakitan yang diomel2in karena aku telah menghambat dia prajab, aku memaksa pulang. Sedih, yang dia pikirkan cuma balik ke Gn. Sempu aja… balik…balik… dan balik. Abis beliin resep ke K-24, makan, trus cabut. Waktu pamit naek motor ninggalin rumah pun reaksinya datar. Gak ada perasaan berat ninggalin istri yang lagi sakit ato gimana ya ? gak tau juga.

IGD... Aku kembali...

Pagi ini pun, dia gak nelpon nanyain langsung, gimana perkembanganku. Cukup via sms. Maklum, slaen sibuk prajab ama temen2 di Gn. Sempu, sekarang dia lagi demam Facebook lagi. Kayak ABG deh. Dikit2 buka FB, ngalah2in aku. Dalam sehari kemaren, FB-nya nonstop dibuka. Mo ngerjain KTI aja masih sempat ter-pending FB lagi. ‘OL buka FB mungkin bisa, tapi telpon istri sakit barang 10 menit kok gak sempat, Mas ?’ Aku sakit dan responnya kayak gini dah terlalu sering. Semoga aja dia segera sadar ninggal istri sakit di rumah mertua.

deja_vu... aku benci...

Deja Vu… i hate you… dulu juga pernah kayak gini. Bedanya yang nganter ke Sardjito adek sepupu ama sahabat deketku, tapi respon suamiku yang waktu itu masih pacar, sama. Konfirmasi cukup via sms. Jadi males liat smsnya. Males semales2nya, kok gak ada perbaikan ya perilakunya yang satu ini ? bukannya mau rewel, tapi tak kira jadi suami tuh ada kecemasan lebih kalo istrinya sakit, apalagi dia liat dengan mata kepala sendiri gimana istrinya muntah2, lemes, merintih kesakitan.

HHhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………………
Aku pikir setelah berkali2 kami bermasalah dengan kasus serupa dia bisa belajar gimana keinginan istrinya diperhatikan saat sakit. Tapi nyatanya ia tidak belajar.
Maaf, Mas… aku kecewa sama sikapmu.. yang kayak gini selalu kau ulangi terus.

Deja Vu… and I Hate Your Very Bad Behaviour Coming Back. Again… and Again.

Deja Vu… balik ke IGD semalam…

Alhamdulillah…

Kemaren, suasana hatiku gak enak. Imbas ribut2 malem sebelumnya… Hati rasanya dah pollll menthok sakitnya. Di caci, dibentak, dikata2in kasar. Akhirnya, secara reflex aku menjauh. Biasanya, kemaren2 kalo ribut, aku masih bisa mencoba untuk stay on the track, mendekat padanya, melobi. Tapi kemaren enggak, tanpa aku sadari, aku memilih menjauh. Bahkan melihat wajahnya di wallpaper lappy pun aku tak mampu. Kalimat2 pedasnya yang menusuk hati terus terngiang2 di telinga, membuat sakit kepala, dada terasa sesak, sakit dalam hati.

Aku menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengingatkanku tentang suamiku. Ganti wallpaper lappy, gak buka Facebook blass, dan yang paling bikin phobia ya bunyi ringtone sms ama telpon masuk. Papa kemaren bolak-balik sms-telpon nanya keadaanku dikantor ( maklum, lagi diare berat coy…). Malah jadi tambah stress denger suara sms-telpon masuk. Tadinya salah satu HP masih aku nyalain, tapi gara2 stress HP bunyi terus, akhirnya OFF semua.

Dah… bener2 lost contact, gak mau denger ato liat suamiku rasanya. Sakit… itu aja yang aku rasain.

Menjelang jam pulang kantor, HP nomor S****** aku nyalain. Balik ke ruangan ternyata ada 4 misscalled dari dia. Tumben ? biasanya aku yang suka ngotot telpon kalo telponku gak diangkat. Gak nyangka ternyata suamiku bisa pulang karena ada jam kosong, gak nyangka lagi kalo suamiku dateng njemput aku ke kantor. Big surprise…. !!! Alhamdulillah…

Alhamdulillah, Ya Allah...

Liat suamiku duduk diatas motor seperti biasanya kemaren2 dia jemput rasanya seneng. Alhamdulillah… Susah digambarkan gimana ya perasaanku detik itu, yang jelas, seingatku reflexku ngliat dia adalah tersenyum. Ya, aku tersenyum.

Satu lagi hal yang membuat aku terkejut, tapi sekaligus bertanya2. Suamiku menangis… suamiku nanya ‘kenapa HP off semua?’, ‘bete ya ?’. Suamiku mangatakan maaf lalu menangis. Mendengar dia menanyakan perasaanku, mendengar dia minta maaf, semua rasa sakit yang tadi sempat tersamarkan oleh kejutan2 yang dia berikan, muncul lagi. Lebay-nya nih, dada rasanya kayak di tendang ratusan kaki kuda. Huuuuffttt…

Ketika kau bilang maaf,aku memaafkanmu, Mas. Itu karena komitmen pernikahan kita, karena aku sayang padamu… Aku memaafkanmu, setulusnya. Tapi justru karena aku memaafkanmu setulus2nya, tidak akan ada lagi kesempatan bagimu untuk mengulanginya lagi di kemudian hari, Mas. Tidak akan ada maaf yang kedua ato yang ke sekian untuk menyakiti hatiku, mengoyak2 komitmen pernikahan kita. Yang kemaren adalah yang terakhir kau sakiti aku. Tolong kau ingat itu.

Kau bilang kau menangis karena kau bersyukur ada yang memperhatikanmu. Aku tak habis pikir, apa hubungannya dengan masalah malam sebelumnya ? kau tak mau menjawab. Meskipun aku tak tahu benar alasanmu menangis, tapi aku mengucap syukur Alhamdulillah pada Allah SWT, Mas. Mungkin Dia mendengar tangisku, mendengar doaku untukmu. Mungkin Allah telah berkenan membukakan pintu hatimu, Mas. Menyadarkanmu. Alhamdulillah…

Pada-Nya aku selalu berdoa supaya Mas menjadi Imamku yang penuh kasih, lembut, bertanggung jawab pada istri di dunia dan akhirat nanti, menuntun, mengayomi dan mencintai aku sebagai istri. Aku berdoa suapaya Mas menjadi seorang Suamiku yang berpegang teguh pada komitmen pernikahan kita, jujur, setia, bisa menerimaku apa adanya, menjaga dan melindungiku, mencintai dan menyayangiku. Yang ku minta padamu adalah standarnya seorang suami yang baik. Tolong, jangan pernah lagi menyakitiku dengan hal2 yang tidak pantas dilakukan seorang suami pada istrinya. Tolong jangan sekalipun menggoyahkan komitmen pernikahan kita, saat kau emosi sekalipun. Jadilah imam dan suami yang baik serta bijak. Sekarang, nanti, kelak, selamanya...

Saat ini hatiku percaya bahwa suamiku tak akan mengulangi kesalahannya. Kalau suamiku menangis menyesal, berarti dia tahu benar seperti apa sakit hatiku dia perlakukan kurang pantas secara verbal. Dia tahu benar, bahwa saat hatiku benar2 merasa sakit, aku memang akan menjauh.

Ya Allah… aku mengucap Alhamdulillah untuk kejutan yang menyenangkan. Aku mengucap Alhamdulillah suamiku akhirnya sadar untuk meminta maaf atas hal kurang menyenangkan kemaren. Semoga tetap Kau jaga suamiku dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Imam dan Suami…

Doaku Untuk Suami

Pagi ini, dalam sholat Tahajud, aku meminta pada-Nya supaya apa yang buruk dijauhkan dari kami. Aku mohon padanya supaya dia dijadikan sosok Imam yang sesungguhnya. Sosok Imam dalam keluarga yang bertanggung jawab, lembut, mengayomi, penuh kasih pada keluarga. Aku mohon pada-Nya agar dia dijadikan sosok suami yang dewasa. Sosok suami yang sayang pada istri, bersikap dan bertutur kata yang pantas pada istri, jujur, setia, menjaga dan berpegang teguh pad komitmen pernikahan kami.

Semalam, kembali hatiku dikoyak-koyak.

“Kamu pikir aku disini nyari istri baru ?”

Astaghfirullah… kalimat itu, kenapa bisa terlontar dari mulutnya ? kami baru saja menikah, belum ada sebulan 😦

Entah, mungkin dia merasa aku sangat pantas mendapat balasan setimpal darinya atas komplain yang aku lontarkan semalam padanya. Sesungguhnya, kemarin aku komplain seperti itu karena ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Tentang keadaan di kantor, pertanyaan orang kantor soal kehamilan, kerjaanku yang kembali ke jaman2 awal aku masuk, tentang perasaan gak enak + bawaan gelisah seharian, tentang sakit yang kembali menyerangku, dan masih ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Tapi, baru aku tahu sekarang… selama dia disana, menjalani diklat, dia tidak mau tahu masalah yang dihadapi istrinya. Baginya, kami di tempat kerja masing2, punya kesibukan masing2 dan aku sama sekali gak boleh mengganggunya. Bahkan untuk jam istirahat. Yaahhh… hidupku ternyata berat. Mengajukan komplain pada orang yang keras justru mendatangkan luka yang ratusan kali lipat lebih sakit dari sekedar komplain yang aku kemukakan.

Dalam sholat Tahajud aku menangis… sadarkan suamiku, Ya Allah. Berikan pengertian padanya bahwa dia terus dan terus menggerus hatiku. Sadarkan suamiku bahwa tak layak seoarang suami yang baik melakukan hal yang dilakukannya itu. Tanpa rasa penyesalan.

Dalam hatiku, aku bertanya… Siapkah kau menjadi seorang suami ? jika ya, kenapa yang kau lakukan adalah serangkaian sikap gak terpuji pada istri ? kalau seorang istri salah menurutmu, apakah harus kau lukai hatinya supaya dia jera membuat kesalahan ?

Ya Allah, dewasakan suamiku. Sadarkanlah dia, bukalah cakrawalanya supaya dia tahu betul BAGAIMANA SEORANG SUAMI YANG BAIK itu bersikap, mengambil sikap, dan menjaga sikap.

Bukakan pintu hatinya, Ya Allah… Sadarkan dia dan berikan pengertian padanya. Istrinya sakit… sakit akibat ucapan2 menyakitkan yang terus-menerus dia ucapkan demi kepuasan hatinya yang sedang emosi.

Kau Usir, Aku Pergi… Selamat Tinggal

Terlalu banyak… terlalu sering dia melukaiku. Suamiku… orang yang aku cintai, selalu dengan entengnya melukaiku. Seperti malam ini, untuk kesekian kalinya. Dan…. TANPA PENYESALAN.

Kalimatnya hari ini, seperti yang sudah2… melukai, tepat di hati. Hari ini, dengan jelas dia mengusirku. Memintaku jangan datang padanya karena aku hanya pengganggu.

Selamat Tinggal...

Kau memintaku pergi dengan sangat jelas. Aku pergi. Seperti yang kau minta. Hatiku tahu, kau tidak membutuhkanku. Aku mencintai lelaki yang gemar kasar padaku, tanpa perasaan menyesal telah menyakiti hatiku. Seharusnya kau sadari, hati yang kau sakiti berkali2 itu bukan terbuat dari baja, sedikit demi sedikit kau telah menghancurkannya. Kau mengusirku, aku pasti pergi…

Tak pernah kubayangkan sosoknya yang sesungguhnya adalah pribadi keras yang mudah menyakiti hati wanita. Wanita yang dia minta dari seorang ayah untuk dia jadikan istrinya. Wanita yang mencintainya tapi disalahartikan sebagai beban, pengganggu olehnya.

Apa ini ujian-Mu, Ya Allah ? Kau berikan pada hamba jodoh yang sering melukai hati hamba dengan kalimat kasar, kalimat tajam yang seharusnya pantang diucapkan seorang suami pada istrinya sendiri ? Ya Allah, hamba sudah memintanya untuk menyadari dan mengurangi sikap dan sifat kurang pantasnya itu, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Justru lara yang hamba tuai. Hamba serahkan pada-Mu, Ya Allah…

Hamba serahkan pada-Mu. Ketuklah pintu hati suami hamba supaya dia benar2 sadar, sikap kasar, kalimat kasarnya sangat tidak pantas. Dosa bagi seorang suami justru menyakiti hati istrinya dengan sengaja dengan maksud supaya jera. Bukakan pintu hatinya, Ya Allah… seorang suami yang baik adalah yang melindungi, menjaga dan mencintai istri. Bukan suami yang kasar dan enteng melukai hati istri tanpa penyesalan sama sekali. Hamba sudah tak sanggup menjalani kehidupan yang keras seperti ini. Mohon Kau berkenan membukakan pintu hatinya dan memberikan kesadaran padanya.

Kekeliruan yang tak pernah kau sadari… keputusanmu mengusirku jauh… aku pergi… seperti yang kau minta. Selamat tinggal. Jaga diri baik2, jaga hatimu baik2, jaga pola makan dan kesehatanmu baik2.

Selamat tinggal…