Sejauh-jauhnya…

Hari ini… kembali aku mendapat kalimat tidak menyenangkan dari laki2 yang berstatus suamiku. Sungguh, tidak ku kira… dia lantang berkata seperti itu padaku. “Mengembalikanmu pada orang tuamu ? boleh2 saja.”

Astaghfirullah… Aku menyerah, Ya Allah… aku tak sanggup.

Semula aku berpikir, aku tidak ingin pergi ke jakarta. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin pergi. Aku ingin pergi sejauh2nya dari dia… sejauh2nya… semoga masih ada kesempatan bagiku untuk di kirim ke jakarta minggu depan. Aku tak sanggup… sungguh tak sanggup.

Sejauh-jauhnya…

Sejauh-jauhnya darimu…

Iklan

Kau Usir, Aku Pergi… Selamat Tinggal

Terlalu banyak… terlalu sering dia melukaiku. Suamiku… orang yang aku cintai, selalu dengan entengnya melukaiku. Seperti malam ini, untuk kesekian kalinya. Dan…. TANPA PENYESALAN.

Kalimatnya hari ini, seperti yang sudah2… melukai, tepat di hati. Hari ini, dengan jelas dia mengusirku. Memintaku jangan datang padanya karena aku hanya pengganggu.

Selamat Tinggal...

Kau memintaku pergi dengan sangat jelas. Aku pergi. Seperti yang kau minta. Hatiku tahu, kau tidak membutuhkanku. Aku mencintai lelaki yang gemar kasar padaku, tanpa perasaan menyesal telah menyakiti hatiku. Seharusnya kau sadari, hati yang kau sakiti berkali2 itu bukan terbuat dari baja, sedikit demi sedikit kau telah menghancurkannya. Kau mengusirku, aku pasti pergi…

Tak pernah kubayangkan sosoknya yang sesungguhnya adalah pribadi keras yang mudah menyakiti hati wanita. Wanita yang dia minta dari seorang ayah untuk dia jadikan istrinya. Wanita yang mencintainya tapi disalahartikan sebagai beban, pengganggu olehnya.

Apa ini ujian-Mu, Ya Allah ? Kau berikan pada hamba jodoh yang sering melukai hati hamba dengan kalimat kasar, kalimat tajam yang seharusnya pantang diucapkan seorang suami pada istrinya sendiri ? Ya Allah, hamba sudah memintanya untuk menyadari dan mengurangi sikap dan sifat kurang pantasnya itu, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Justru lara yang hamba tuai. Hamba serahkan pada-Mu, Ya Allah…

Hamba serahkan pada-Mu. Ketuklah pintu hati suami hamba supaya dia benar2 sadar, sikap kasar, kalimat kasarnya sangat tidak pantas. Dosa bagi seorang suami justru menyakiti hati istrinya dengan sengaja dengan maksud supaya jera. Bukakan pintu hatinya, Ya Allah… seorang suami yang baik adalah yang melindungi, menjaga dan mencintai istri. Bukan suami yang kasar dan enteng melukai hati istri tanpa penyesalan sama sekali. Hamba sudah tak sanggup menjalani kehidupan yang keras seperti ini. Mohon Kau berkenan membukakan pintu hatinya dan memberikan kesadaran padanya.

Kekeliruan yang tak pernah kau sadari… keputusanmu mengusirku jauh… aku pergi… seperti yang kau minta. Selamat tinggal. Jaga diri baik2, jaga hatimu baik2, jaga pola makan dan kesehatanmu baik2.

Selamat tinggal…