I’m So Sick Of You

Orang yang menyembunyikan hal yang gak wajar dimana2 pasti melakukan hal yang gak wajar juga. Hari ini, tumben, masuk ke kamar komputer gak pake nutup pintu. Kemaren2, kalo masuk ke kamar itu pasti langsung nutup pintu rapat. yaelah, sebego-begonya orang juga bakal atau kalo memang ada yang disembunyikan. Hadeeeh…. yang sesumbar dirinya jujur. Kenapa juga ada bokis2 nyebelin kayak gitu ? muak juga sih ngadepin hal yang beginian.

that's true...


I’m so sick of you…

Beneran, sumpeh deh… yang ngomong gak pernah bo’ong kenapa juga harus ngumpetin hal2 kayak gini ? dan tololnya lagi, sikapnya itu gampang banget buat di tebak.

Yeah, i’m so sick of you…. that’s true…

Iklan

Bosan…

Bosan… itu yang aku rasakan sekarang. Aku bosan menjalani hidup yang terus naik turun tanpa ada jaminan dalam sehari kami gak bertengkar.

Aku Bosan !!!

Hari ini contohnya.Tadi pagi kami mengawali pagi dengan hal yang menyenangkan, tapi entah kenapa, pertanyaanku yang sebenernya gak ada tendensi apa2 justru membuat dia mengeluarkan komentar yang membosankan dan gak enak di dengar telinga.

Huuufft… bosan aku hidup dengan status siaga terus kayak gini. Dia yang nyata2 demam Facebook, tapi nuduh2 aku mantau FB-nya. Ckckck… itu sih namanya maling teriak maling. Orang diem aja diteriakin maling. Hadeeeehhh… capek ! Udah gitu merembet ke masalah HP yang tadinya sama skali gak ada hubungannya. Jengkel sebenernya ngadepin orang gak fair kayak gini, tapi apa boleh buat. Udah model cetakannya kayak gitu kali ya ?

Bosan disalah2kan terus… tanpa tendensi apapun akhirnya tetep disentil nyebelin. Heeeehhh… sedih… kok hidupku kayak gini seh ?

IGD… Deja Vu…

Hari ini aku terkapar lemah di kamar, gak masuk kerja. Semalem terkapar lebih lemah lagi di ranjang Instalasi Gawat Darurat RS Sardjito. Demam tinggi, mual, muntah, pusing, badan sakit semua… whuaahhh… rasanya gak enak blass.Ditemenin suami ama mama aku ke RS. Di sana aku di suntik sekali, harus nunggu setengah jam sampe satu jam untuk melihat reaksinya. Setengah jam, 45 menit, dokter balik lagi dan rasa mual itu gak ilang2 juga. Dokter bilang, aku butuh di suntik sekali lagi. Tapi, suamiku dah menunjukkan sikap gelisahnya. Ya, dia harus balik ke Gunung Sempu lagi buat prajab. Akhirnya, dari pada dikemudian hari aku tambah dijadikan pesakitan yang diomel2in karena aku telah menghambat dia prajab, aku memaksa pulang. Sedih, yang dia pikirkan cuma balik ke Gn. Sempu aja… balik…balik… dan balik. Abis beliin resep ke K-24, makan, trus cabut. Waktu pamit naek motor ninggalin rumah pun reaksinya datar. Gak ada perasaan berat ninggalin istri yang lagi sakit ato gimana ya ? gak tau juga.

IGD... Aku kembali...

Pagi ini pun, dia gak nelpon nanyain langsung, gimana perkembanganku. Cukup via sms. Maklum, slaen sibuk prajab ama temen2 di Gn. Sempu, sekarang dia lagi demam Facebook lagi. Kayak ABG deh. Dikit2 buka FB, ngalah2in aku. Dalam sehari kemaren, FB-nya nonstop dibuka. Mo ngerjain KTI aja masih sempat ter-pending FB lagi. ‘OL buka FB mungkin bisa, tapi telpon istri sakit barang 10 menit kok gak sempat, Mas ?’ Aku sakit dan responnya kayak gini dah terlalu sering. Semoga aja dia segera sadar ninggal istri sakit di rumah mertua.

deja_vu... aku benci...

Deja Vu… i hate you… dulu juga pernah kayak gini. Bedanya yang nganter ke Sardjito adek sepupu ama sahabat deketku, tapi respon suamiku yang waktu itu masih pacar, sama. Konfirmasi cukup via sms. Jadi males liat smsnya. Males semales2nya, kok gak ada perbaikan ya perilakunya yang satu ini ? bukannya mau rewel, tapi tak kira jadi suami tuh ada kecemasan lebih kalo istrinya sakit, apalagi dia liat dengan mata kepala sendiri gimana istrinya muntah2, lemes, merintih kesakitan.

HHhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………………
Aku pikir setelah berkali2 kami bermasalah dengan kasus serupa dia bisa belajar gimana keinginan istrinya diperhatikan saat sakit. Tapi nyatanya ia tidak belajar.
Maaf, Mas… aku kecewa sama sikapmu.. yang kayak gini selalu kau ulangi terus.

Deja Vu… and I Hate Your Very Bad Behaviour Coming Back. Again… and Again.

Deja Vu… balik ke IGD semalam…

Alhamdulillah…

Kemaren, suasana hatiku gak enak. Imbas ribut2 malem sebelumnya… Hati rasanya dah pollll menthok sakitnya. Di caci, dibentak, dikata2in kasar. Akhirnya, secara reflex aku menjauh. Biasanya, kemaren2 kalo ribut, aku masih bisa mencoba untuk stay on the track, mendekat padanya, melobi. Tapi kemaren enggak, tanpa aku sadari, aku memilih menjauh. Bahkan melihat wajahnya di wallpaper lappy pun aku tak mampu. Kalimat2 pedasnya yang menusuk hati terus terngiang2 di telinga, membuat sakit kepala, dada terasa sesak, sakit dalam hati.

Aku menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengingatkanku tentang suamiku. Ganti wallpaper lappy, gak buka Facebook blass, dan yang paling bikin phobia ya bunyi ringtone sms ama telpon masuk. Papa kemaren bolak-balik sms-telpon nanya keadaanku dikantor ( maklum, lagi diare berat coy…). Malah jadi tambah stress denger suara sms-telpon masuk. Tadinya salah satu HP masih aku nyalain, tapi gara2 stress HP bunyi terus, akhirnya OFF semua.

Dah… bener2 lost contact, gak mau denger ato liat suamiku rasanya. Sakit… itu aja yang aku rasain.

Menjelang jam pulang kantor, HP nomor S****** aku nyalain. Balik ke ruangan ternyata ada 4 misscalled dari dia. Tumben ? biasanya aku yang suka ngotot telpon kalo telponku gak diangkat. Gak nyangka ternyata suamiku bisa pulang karena ada jam kosong, gak nyangka lagi kalo suamiku dateng njemput aku ke kantor. Big surprise…. !!! Alhamdulillah…

Alhamdulillah, Ya Allah...

Liat suamiku duduk diatas motor seperti biasanya kemaren2 dia jemput rasanya seneng. Alhamdulillah… Susah digambarkan gimana ya perasaanku detik itu, yang jelas, seingatku reflexku ngliat dia adalah tersenyum. Ya, aku tersenyum.

Satu lagi hal yang membuat aku terkejut, tapi sekaligus bertanya2. Suamiku menangis… suamiku nanya ‘kenapa HP off semua?’, ‘bete ya ?’. Suamiku mangatakan maaf lalu menangis. Mendengar dia menanyakan perasaanku, mendengar dia minta maaf, semua rasa sakit yang tadi sempat tersamarkan oleh kejutan2 yang dia berikan, muncul lagi. Lebay-nya nih, dada rasanya kayak di tendang ratusan kaki kuda. Huuuuffttt…

Ketika kau bilang maaf,aku memaafkanmu, Mas. Itu karena komitmen pernikahan kita, karena aku sayang padamu… Aku memaafkanmu, setulusnya. Tapi justru karena aku memaafkanmu setulus2nya, tidak akan ada lagi kesempatan bagimu untuk mengulanginya lagi di kemudian hari, Mas. Tidak akan ada maaf yang kedua ato yang ke sekian untuk menyakiti hatiku, mengoyak2 komitmen pernikahan kita. Yang kemaren adalah yang terakhir kau sakiti aku. Tolong kau ingat itu.

Kau bilang kau menangis karena kau bersyukur ada yang memperhatikanmu. Aku tak habis pikir, apa hubungannya dengan masalah malam sebelumnya ? kau tak mau menjawab. Meskipun aku tak tahu benar alasanmu menangis, tapi aku mengucap syukur Alhamdulillah pada Allah SWT, Mas. Mungkin Dia mendengar tangisku, mendengar doaku untukmu. Mungkin Allah telah berkenan membukakan pintu hatimu, Mas. Menyadarkanmu. Alhamdulillah…

Pada-Nya aku selalu berdoa supaya Mas menjadi Imamku yang penuh kasih, lembut, bertanggung jawab pada istri di dunia dan akhirat nanti, menuntun, mengayomi dan mencintai aku sebagai istri. Aku berdoa suapaya Mas menjadi seorang Suamiku yang berpegang teguh pada komitmen pernikahan kita, jujur, setia, bisa menerimaku apa adanya, menjaga dan melindungiku, mencintai dan menyayangiku. Yang ku minta padamu adalah standarnya seorang suami yang baik. Tolong, jangan pernah lagi menyakitiku dengan hal2 yang tidak pantas dilakukan seorang suami pada istrinya. Tolong jangan sekalipun menggoyahkan komitmen pernikahan kita, saat kau emosi sekalipun. Jadilah imam dan suami yang baik serta bijak. Sekarang, nanti, kelak, selamanya...

Saat ini hatiku percaya bahwa suamiku tak akan mengulangi kesalahannya. Kalau suamiku menangis menyesal, berarti dia tahu benar seperti apa sakit hatiku dia perlakukan kurang pantas secara verbal. Dia tahu benar, bahwa saat hatiku benar2 merasa sakit, aku memang akan menjauh.

Ya Allah… aku mengucap Alhamdulillah untuk kejutan yang menyenangkan. Aku mengucap Alhamdulillah suamiku akhirnya sadar untuk meminta maaf atas hal kurang menyenangkan kemaren. Semoga tetap Kau jaga suamiku dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Imam dan Suami…

Kangen kamu, Nak… (Part 2)

Kangen Momon… saat perasaanku gak enak kayak sekarang, aku kangen Momon. Biasanya kalo ada Momon, dia pasti ada disamping dan menghiburku. Menggoyangkan ekornya, menurunkan kedua telinganya, menjulurkan idahnya, memasang wajah ketawa. Ya Allah… aku kangen anakku 😦

Momon tau apa yang harus dia lakukan ketika melihat majikannya menangis. Dia tahu ekspresi apa yang harus dia sodorkan ketika melihat aku tersudut dalam kesedihan. Mon, banyak hal yang sudah terjadi sejak kami pergi, Nak. Ada tawa, ada tangis, ada kelucuan tapi juga ada luka. Banyak yang ingin aku ceritakan padamu, Nak.

Dan sekarang, aku sedang tersudut dalam kesedihan, Nak. Aku membutuhkanmu disini, menemaniku dalam kebisuanmu. Orang yang aku harapkan bisa mendengar tangis hatiku ternyata berhati keras.Segala cara sudah kulakukan untuk membuatnya melihat dan merasakan tapi aku pesimis… nggak terlihat kesadaran TULUS yang signifikan.

Mon, aku kangen padamu, Nak… kangen kamu ada disisiku, menemaniku dalam suka dan duka. Sekarang, semuanya harus aku lalui sendiri tanpa kamu, Nak…

I Miss You, Son..

I Miss You, Son

Suka tidak suka harus aku lalui… berat, Nak. Lebih berat karena pribadi yang ku sanding adalah pribadi yang tidak bisa berempati pada perasaan istri.

Nak, aku menangis dan tak ada yang peduli. Tak ada yang peduli seperti kau biasa menghampiriku ketika aku menangis dan meletakkan dagumu di lututku. Aku rindu masa-masa itu, Nak. Masa kebersamaan kita…

I Miss You, Son…
I Miss The Moment We Had Together…

D.I.L.E.M.A

Papa ama kakak sulungku marah 😦 Mereka tahu masalah kami bertengkar, mereka marah karena suamiku membanding2kan aku ama wanita lain. Agak takut… bukan cuma agak, tapi memang takut melihat kemarahan mereka… terlebih kakakku.

Dilema, disatu sisi aku memang sakit hati dengan perlakuan tidak wajar suamiku. Di sisi lain aku nggak mau suamiku kena damprat kakakku. Aku tahu, kakakku menunjukkan kemarahannya seperti sekarang karena nggak rela harga diri adeknya diinjak2, hati adeknya disakiti… oleh suami sendiri. Karena dia tidak pernah berlaku seperti itu pada istrinya, dia tidak pernah melihat papa melakukan hal itu pada mama. Tapi dia tahu adek iparnya melakukan pada adek perempuannya yang sampe SMP pun masih dia gendong, sampe SMA pun masih dia kawal kemana-mana.

DILEMA

D.I.L.E.M.A

Dilema, ingin rasanya suamiku bisa mendengar nasehat dari kakakku tentang pantas tidak sikapnya sebagai suami membanding2kan istri sendiri dengan wanita lain. Tapi kakakku gak mungkin bisa nasehatin dengan sabar. Dia dah terlanjur marah. Lebih marah dari papa.

Dilema, aku ingin suamiku jera memperlakukan aku dengan tidak layak. Tapi aku juga gak mau dia tersakiti dengan sikap keras kakakku.

Dilema, apa yang sebaiknya aku lakukan ? aku nggak tau apa yang harus aku lakukan. Yang aku bisa hanya mencegah mereka bertemu muka.

Pusing… gak bisa mikir jernih sekarang…

Kemaren… Sekarang… Besok… ?

Kemaren... Sekarang... Besok...

Kemaren aku melihat punggungnya…
Hari ini aku kehilangan bayangannya…

Kemaren aku merasa dekat…
Sekarang aku merasa jauh…

Dia menciptakan jarak…

Semula aku ingin berusaha merapatkan jarak
Tapi dia terlalu…
Jarak itu kian di perlebar

Aku lelah…
Dipermainkan, ditarik ulur

Aku lelah…
Merasakan sakit

Kemarin…
Mengembang…
Segar…
Hidup…

Sekarang…
Beringsut…
Layu…
Mati…

Kecewa dia membentangkan jarak…

Runtutan Waktu..

Kemaren…
Sekarang…
Bagaimana besok ?

Besok akan lebih baik dari hari ini

Semestinya…