Kau Usir, Aku Pergi… Selamat Tinggal

Terlalu banyak… terlalu sering dia melukaiku. Suamiku… orang yang aku cintai, selalu dengan entengnya melukaiku. Seperti malam ini, untuk kesekian kalinya. Dan…. TANPA PENYESALAN.

Kalimatnya hari ini, seperti yang sudah2… melukai, tepat di hati. Hari ini, dengan jelas dia mengusirku. Memintaku jangan datang padanya karena aku hanya pengganggu.

Selamat Tinggal...

Kau memintaku pergi dengan sangat jelas. Aku pergi. Seperti yang kau minta. Hatiku tahu, kau tidak membutuhkanku. Aku mencintai lelaki yang gemar kasar padaku, tanpa perasaan menyesal telah menyakiti hatiku. Seharusnya kau sadari, hati yang kau sakiti berkali2 itu bukan terbuat dari baja, sedikit demi sedikit kau telah menghancurkannya. Kau mengusirku, aku pasti pergi…

Tak pernah kubayangkan sosoknya yang sesungguhnya adalah pribadi keras yang mudah menyakiti hati wanita. Wanita yang dia minta dari seorang ayah untuk dia jadikan istrinya. Wanita yang mencintainya tapi disalahartikan sebagai beban, pengganggu olehnya.

Apa ini ujian-Mu, Ya Allah ? Kau berikan pada hamba jodoh yang sering melukai hati hamba dengan kalimat kasar, kalimat tajam yang seharusnya pantang diucapkan seorang suami pada istrinya sendiri ? Ya Allah, hamba sudah memintanya untuk menyadari dan mengurangi sikap dan sifat kurang pantasnya itu, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Justru lara yang hamba tuai. Hamba serahkan pada-Mu, Ya Allah…

Hamba serahkan pada-Mu. Ketuklah pintu hati suami hamba supaya dia benar2 sadar, sikap kasar, kalimat kasarnya sangat tidak pantas. Dosa bagi seorang suami justru menyakiti hati istrinya dengan sengaja dengan maksud supaya jera. Bukakan pintu hatinya, Ya Allah… seorang suami yang baik adalah yang melindungi, menjaga dan mencintai istri. Bukan suami yang kasar dan enteng melukai hati istri tanpa penyesalan sama sekali. Hamba sudah tak sanggup menjalani kehidupan yang keras seperti ini. Mohon Kau berkenan membukakan pintu hatinya dan memberikan kesadaran padanya.

Kekeliruan yang tak pernah kau sadari… keputusanmu mengusirku jauh… aku pergi… seperti yang kau minta. Selamat tinggal. Jaga diri baik2, jaga hatimu baik2, jaga pola makan dan kesehatanmu baik2.

Selamat tinggal…

Iklan

Kangen kamu, Nak… (Part 2)

Kangen Momon… saat perasaanku gak enak kayak sekarang, aku kangen Momon. Biasanya kalo ada Momon, dia pasti ada disamping dan menghiburku. Menggoyangkan ekornya, menurunkan kedua telinganya, menjulurkan idahnya, memasang wajah ketawa. Ya Allah… aku kangen anakku 😦

Momon tau apa yang harus dia lakukan ketika melihat majikannya menangis. Dia tahu ekspresi apa yang harus dia sodorkan ketika melihat aku tersudut dalam kesedihan. Mon, banyak hal yang sudah terjadi sejak kami pergi, Nak. Ada tawa, ada tangis, ada kelucuan tapi juga ada luka. Banyak yang ingin aku ceritakan padamu, Nak.

Dan sekarang, aku sedang tersudut dalam kesedihan, Nak. Aku membutuhkanmu disini, menemaniku dalam kebisuanmu. Orang yang aku harapkan bisa mendengar tangis hatiku ternyata berhati keras.Segala cara sudah kulakukan untuk membuatnya melihat dan merasakan tapi aku pesimis… nggak terlihat kesadaran TULUS yang signifikan.

Mon, aku kangen padamu, Nak… kangen kamu ada disisiku, menemaniku dalam suka dan duka. Sekarang, semuanya harus aku lalui sendiri tanpa kamu, Nak…

I Miss You, Son..

I Miss You, Son

Suka tidak suka harus aku lalui… berat, Nak. Lebih berat karena pribadi yang ku sanding adalah pribadi yang tidak bisa berempati pada perasaan istri.

Nak, aku menangis dan tak ada yang peduli. Tak ada yang peduli seperti kau biasa menghampiriku ketika aku menangis dan meletakkan dagumu di lututku. Aku rindu masa-masa itu, Nak. Masa kebersamaan kita…

I Miss You, Son…
I Miss The Moment We Had Together…

D.I.L.E.M.A

Papa ama kakak sulungku marah 😦 Mereka tahu masalah kami bertengkar, mereka marah karena suamiku membanding2kan aku ama wanita lain. Agak takut… bukan cuma agak, tapi memang takut melihat kemarahan mereka… terlebih kakakku.

Dilema, disatu sisi aku memang sakit hati dengan perlakuan tidak wajar suamiku. Di sisi lain aku nggak mau suamiku kena damprat kakakku. Aku tahu, kakakku menunjukkan kemarahannya seperti sekarang karena nggak rela harga diri adeknya diinjak2, hati adeknya disakiti… oleh suami sendiri. Karena dia tidak pernah berlaku seperti itu pada istrinya, dia tidak pernah melihat papa melakukan hal itu pada mama. Tapi dia tahu adek iparnya melakukan pada adek perempuannya yang sampe SMP pun masih dia gendong, sampe SMA pun masih dia kawal kemana-mana.

DILEMA

D.I.L.E.M.A

Dilema, ingin rasanya suamiku bisa mendengar nasehat dari kakakku tentang pantas tidak sikapnya sebagai suami membanding2kan istri sendiri dengan wanita lain. Tapi kakakku gak mungkin bisa nasehatin dengan sabar. Dia dah terlanjur marah. Lebih marah dari papa.

Dilema, aku ingin suamiku jera memperlakukan aku dengan tidak layak. Tapi aku juga gak mau dia tersakiti dengan sikap keras kakakku.

Dilema, apa yang sebaiknya aku lakukan ? aku nggak tau apa yang harus aku lakukan. Yang aku bisa hanya mencegah mereka bertemu muka.

Pusing… gak bisa mikir jernih sekarang…

Cinta…

Dalam sadarku telah kusunting luka. Dan kuterima, sakitnya memang luar biasa. Inikah yang kubela?

~ Moammar Emka ~

Tanya, Apa itu CINTA

Tanya, apa itu CINTA...

Sakitnya luar biasa, lebih luar biasa karena kau menyangkalnya, menganggapnya sederhana. Yang terlihat sekarang adalah tanya, yang terbersit sekarang juga cuma tanya. Bagimu inikah definisi ‘Cinta’ ? Teregang kuat setelah janji setia itu berkumandang nyata.

Cinta itu menjaga, menyapa, setia, apa adanya. Cinta tidak akan membiarkan luka datang menyela. Mengurai ikatan simpul cinta dua anak manusia.

Tak seharusnya kau biarkan luka itu menyapa, menggores lara, membuat hati bertanya.

Apakah bagimu ini adalah pengejawantahan ‘Cinta’ ?

Apakah ini yang aku bela ? yang pantas aku terima ?

Cinta seharusnya menghadirkan tawa, bahagia… bukan lara.

Kemaren… Sekarang… Besok… ?

Kemaren... Sekarang... Besok...

Kemaren aku melihat punggungnya…
Hari ini aku kehilangan bayangannya…

Kemaren aku merasa dekat…
Sekarang aku merasa jauh…

Dia menciptakan jarak…

Semula aku ingin berusaha merapatkan jarak
Tapi dia terlalu…
Jarak itu kian di perlebar

Aku lelah…
Dipermainkan, ditarik ulur

Aku lelah…
Merasakan sakit

Kemarin…
Mengembang…
Segar…
Hidup…

Sekarang…
Beringsut…
Layu…
Mati…

Kecewa dia membentangkan jarak…

Runtutan Waktu..

Kemaren…
Sekarang…
Bagaimana besok ?

Besok akan lebih baik dari hari ini

Semestinya…

Suratku Untuk Suami

Berbicara… mengatakan secara verbal apa yang aku rasakan pada suami tidak memberikan impuls apapun padanya. Untaian kalimat yang kusampaikan sama sekali tidak menyentuh nuraninya sebagai seorang suami. Ungkapan hatiku yang kukirimkan lewat email karena saat ini kami jauh pun lagi2 tidak membuatnya menyadari betul seperti apa kalimat2nya sudah memporak-porandakan hati istrinya sendiri. Sekali lagi, kusampaikan isi hatiku pada suamiku lewat ‘surat’ ini, semoga kali ini dia tahu, benar2 menyadari… bahwa aku tidak sedang bercanda. Sakit hati itu ada.

“Mas, sebelumnya aku minta maaf… atas semua sikap, sifat dan perkataanku yang selama ini mungkin tidak baik sampai akhirnya mengantarkanku pada sebuah moment tidak menyenangkan buatku sendiri. Aku minta maaf karena saat ini aku masih banyak kekurangan menjadi seorang istri,mennjadi pendamping hidupmu.

Aku sadar, tidak menutup mata. Selama ini ada banyak yang kau berikan untukku, ada banyak yang telah kau korbankan demi aku. Aku bersyukur atas karunia jodohku yang baik, yang mau melakukan banyak hal untuk kebahagiaanku … kamu, Mas. Untuk itu, aku mengucapkan terima kasih, meski sesungguhnya kebaikanmu tidak bisa hanya dibalas dengan ucapan saja.

Menikah denganmu, menjadi istrimu adalah hal terindah yang akhirnya bisa menjadi kenyataan setelah kita melewati masa pacaran setahun lebih. Yang aku bayangkan dalam otakku adalah sosokmu selain sebagai figur WAJIB seorang suami yang penyayang, lembut, tanggung jawab pada istri dan keluarga yang hendak kau bangun, jujur, setia dan menjaga teguh komitmen pernikahan… aku juga menginginkan sosok kakak, sahabat paling dekat sekaligus figur ayah kutemui dalam dirimu. Tapi itu keinginan yang terlalu idealis. Mungkin tuntutanku terlalu banyak, seperti yang kau keluhkan padaku. Okelah, setidaknya figur suami dan seorang kakak bisa kau penuhi. Lebih sempit lagi, figur suami-lah yang WAJIB kau penuhi, mas. Aku gak terlalu rewel kan untuk hal ini ?

Menjadi seorang suami menurut pengetahuanku yang sempit adalah menjadi pelindung bagi istrinya. Kewajibanmu sebagai suami pada istri semestinya kau sudah tahu dengan jelas, Mas. Yang ingin (lagi) kuungkapkan padamu adalah aku ingin kau menghilangkan sikap kasar (secara verbal) dan dinginmu padaku. Sejak pacaran aku sudah sering mengingatkan, kendalikan ucapanmu ketika kau emosi. Ingat berapa kali kau sakiti aku secara verbal, kau pertaruhkan komitmen kita ketika emosimu melonjak tinggi ? kalau kau lupa, aku masih ingat, Mas. Empat kali kejadian memukul telak perasaanku. Rasanya sakit. Sangat sakit. Aku menangis… bukan sekedar menangis cengeng. Dan ini bukan sekedar lip service sekedar mengatakan ‘sakit’ padamu. Meski tak mungkin kau lakukan (tapi jika kau mau), kau bisa bertanya pada Bunda yang melahirkanmu, apakah pantas seorang suami sedikit2 mengumbar kalimat kasar ketika dia marah ? berkata kasar pada istri dan menggoyahkan komitmen berdua ?

Asal kau tahu, Mas. Menikah denganmu sama sekali tidak pernah terbersit ‘penyesalan’ dalam hatiku. Tapi aku seringkali kau suguhi dengan pengakuan penyesalan. Berulang kali kau katakan ‘di luar ada lebih banyak yang lebih baik’. Astaghfirullah… nyebut, Mas. Dalam keadaan sadarkah kau ucapkan itu ? ya, kau sangat sadar. Aku tahu itu. Dan kau tidak pernah merasa bersalah mengatai istrimu seperti itu. Tanyakan pada Bundamu, Mas… pantaskah seorang suami yang bijak berkata seperti itu ? Pantaskan seorang suami menyakiti istrinya seperti itu ? Aku kecewa… mohon diingat, BUKAN karena menikahimu tapi karena perlakuanmu padaku yang buruk. Melukai sebegitu dalam namun tak seujung kuku pun kau ada perasaan menyesal.

Yang aku inginkan sekarang adalah Allah SWT segera memberikan kepercayaan-Nya pada kita untuk mendapatkan keturunan. Semua orang menasehati, ‘kalo mau cepet hamil, selain wajib berdoa dan berusaha, jangan mikir yang berat2, mbak… jangan stress, juga kecapekan.’ Petuah-petuah macam itu jadi mengingatkanku, saat ini aku masih tak habis pikir kenapa Mas bisa memperlakukan aku seperti itu. Sedikit2 marah, mbentak, ato luweh2 kalo orang jawa bilang. Mas, aku minta, tolong hargai aku sebagai seorang istri. Perlakukan aku layaknya seorang suami bijak memperlakukan istrinya dengan baik. Aku tidak mau tiap hari harus berstatus ‘WASPADA’ pada kemarahanmu yang kadang muncul mendadak. Aku mau hidup tenang berkeluarga.

Aku ingin keluarga sakinah yang rukun. Aku ingin Mas bisa menerimaku apa adanya, tanpa sedikit2 membandingkan aku dengan wanita lain. Karena sekalipun aku tidak pernah dan tidak akan membandingkan kau dengan lelaki manapun. Aku menerima Mas apa adanya, tanpa kecuali, tapi jangan bersikap kasar dan egois. Bagiku suami yang mencintaiku, menerimaku apa adanya, penyayang, jujur dan setia pada komitmen pernikahan kita sudah lebih dari cukup, Mas. Jadilah seperti itu, Mas.

Aku minta… dengan sangat, dengan hormat.. kalopun egomu sebagai lelaki menganggap aku pantas mendapat hukuman darimu, ingatlah janjimu pada papa saat Ijab Qabul, didepan penghulu, disaksikan keluarga besar, janjimu pada Allah bahwasananya kau akan menjadi Imamku yang baik dan bertanggung jawab, mengajari istri, mendidik istri bukan dengan kekerasan verbal, tapi dengan kesabaran. Istri juga selayaknya kau hormati, Mas… Hargai dan perlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Aku nggak mau dan kapok dikit2 dibentak. Apa2 serba salah… Sudah cukup kau sakiti aku dengan hal2 kasar. Jangan ada lagi… Tolong…

Kalau Mas mencintaiku, seharusnya Mas takut melukai perasaanku. Mas membutuhkan aku. Mas ada perasaan ingin menjaga, melindungi dan menyayangiku. Mas ada rasa takut kehilangan aku. Hatiku bukan baja yang bisa terus digempur kekerasan ato di kondisikan dingin seperti dalam freezer. Aku, manusia, Mas. Yang bisa merasa sakit, beringsut ketika terus-menerus disakiti….

Aku mencintaimu, Mas… mencintaimu tanpa syarat… tapi bukan berarti aku mau dan rela untuk dikasari verbal ato diperlakukan cuek/dingin. Kita menikah untuk tujuan ibadah dan dalam ibadah setauku nggak ada unsur kekerasan, baik verbal apalagi fisik. Berlaku cuek satu sama lain.

Aku mencintaimu, Mas… dulu, sekarang, nanti, kelak dan seterusnya. Semoga kau juga sama… Dan tolong, bukalah pintu hatimu untuk bisa benar2 memahami rasa sakitku.

With Love… Piti.

Ngeluh nyoookkk…

Waktunya ngeluh….

Hari ini kurang menyenangkan… sejak semalam susah tidur, paginya agak kesiangan plus bangun dengan badan yang gak sehat. Kepala berat, badan agak panas. Mau ijin gak masuk, ama papa pasti gak boleh…gak enak juga ama atasan. Kemaren baru aja dapet cuti nikah seminggu, dilanjut ijin setengah hari kerabat meninggal.

Tadi di rumah sakit dah dibela2in berangkat awal dengan ijin sakit ke puskesmas, ealah… malah diganjel antrian segambreng !!!! huaaaaa…. kesel ! akhirnya cuma beli paracetamol di K 24. Sore ni pengennya langsung ke dokter umum langganan, tapi setelah dipikir2, ntar pulang kemaleman sendiri gimana ??? aduuuhhh… sebel…

Berasa single, sakit gak ada suami di samping nemenin. Boro2 nemenin, sekarang aja dia baru marah..marah dan marah temanya.

Susah jadi manusia…