Sejauh-jauhnya… (Part 2)

Disakiti bertubi2 oleh pria yang sungguh2 dicintai ternyata sangat menyakitkan. Lebih baik mati dari pada hidup tertekan seperti itu. Toh dia tidak pernah memikirkan sakit yang aku tanggung dari ucapannya. Aku mungkin berdosa, tapi dalam keadaan tertekan seperti sekarang, mataku hanya tertuju pada sesuatu di sudut ruangan kamar yang bisa mengantarkan aku pada pembebasan dari segala rasa sakitku. Sesuatu yang akan memisahkan aku darinya, selamanya. Barangnya ini ditanganku, tapi belum cukup keberanianku untuk melakukannya sekarang…

Aku nggak tau sebesar apa dosa yang harus aku tanggung nanti jika aku benar2 melakukannya besok. Tapi hatiku sudah tak sanggup lagi. Aku sepantasnya dicintai, dijaga, disayang dan dilindungi. Bukan disakiti sesering ini.

Sejauh-jauhnya darimu… aku pikir hanya satu cara. Dengan ‘barang’ ini, kau bisa jauh dariku. Kau tak akan lagi menemukan pengganggu sepertiku. Kau nggak perlu marah2 lagi pada orang bodoh manja sepertiku. Sekali lagi kau sakiti aku, kau memberiku keberanian untuk melakukannya.

Aku mencintaimu, tapi luka demi luka kau sematkan padaku. Aku belajar… jangan kuatir.. aku belajar memberanikan diri melakukannya, mengakhiri semua ini dengan adil. Aku yang pergi, kau yang hidup. Aku lelah meminta padamu untuk berhenti menyakitiku, kasar padaku.

Yang kupikirkan sekarang hanya jalan itu… jalan untuk menjadi sejauh-jauhnya darimu.

Cinta…

Dalam sadarku telah kusunting luka. Dan kuterima, sakitnya memang luar biasa. Inikah yang kubela?

~ Moammar Emka ~

Tanya, Apa itu CINTA

Tanya, apa itu CINTA...

Sakitnya luar biasa, lebih luar biasa karena kau menyangkalnya, menganggapnya sederhana. Yang terlihat sekarang adalah tanya, yang terbersit sekarang juga cuma tanya. Bagimu inikah definisi ‘Cinta’ ? Teregang kuat setelah janji setia itu berkumandang nyata.

Cinta itu menjaga, menyapa, setia, apa adanya. Cinta tidak akan membiarkan luka datang menyela. Mengurai ikatan simpul cinta dua anak manusia.

Tak seharusnya kau biarkan luka itu menyapa, menggores lara, membuat hati bertanya.

Apakah bagimu ini adalah pengejawantahan ‘Cinta’ ?

Apakah ini yang aku bela ? yang pantas aku terima ?

Cinta seharusnya menghadirkan tawa, bahagia… bukan lara.