Doaku Untuk Suami

Pagi ini, dalam sholat Tahajud, aku meminta pada-Nya supaya apa yang buruk dijauhkan dari kami. Aku mohon padanya supaya dia dijadikan sosok Imam yang sesungguhnya. Sosok Imam dalam keluarga yang bertanggung jawab, lembut, mengayomi, penuh kasih pada keluarga. Aku mohon pada-Nya agar dia dijadikan sosok suami yang dewasa. Sosok suami yang sayang pada istri, bersikap dan bertutur kata yang pantas pada istri, jujur, setia, menjaga dan berpegang teguh pad komitmen pernikahan kami.

Semalam, kembali hatiku dikoyak-koyak.

“Kamu pikir aku disini nyari istri baru ?”

Astaghfirullah… kalimat itu, kenapa bisa terlontar dari mulutnya ? kami baru saja menikah, belum ada sebulan 😦

Entah, mungkin dia merasa aku sangat pantas mendapat balasan setimpal darinya atas komplain yang aku lontarkan semalam padanya. Sesungguhnya, kemarin aku komplain seperti itu karena ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Tentang keadaan di kantor, pertanyaan orang kantor soal kehamilan, kerjaanku yang kembali ke jaman2 awal aku masuk, tentang perasaan gak enak + bawaan gelisah seharian, tentang sakit yang kembali menyerangku, dan masih ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Tapi, baru aku tahu sekarang… selama dia disana, menjalani diklat, dia tidak mau tahu masalah yang dihadapi istrinya. Baginya, kami di tempat kerja masing2, punya kesibukan masing2 dan aku sama sekali gak boleh mengganggunya. Bahkan untuk jam istirahat. Yaahhh… hidupku ternyata berat. Mengajukan komplain pada orang yang keras justru mendatangkan luka yang ratusan kali lipat lebih sakit dari sekedar komplain yang aku kemukakan.

Dalam sholat Tahajud aku menangis… sadarkan suamiku, Ya Allah. Berikan pengertian padanya bahwa dia terus dan terus menggerus hatiku. Sadarkan suamiku bahwa tak layak seoarang suami yang baik melakukan hal yang dilakukannya itu. Tanpa rasa penyesalan.

Dalam hatiku, aku bertanya… Siapkah kau menjadi seorang suami ? jika ya, kenapa yang kau lakukan adalah serangkaian sikap gak terpuji pada istri ? kalau seorang istri salah menurutmu, apakah harus kau lukai hatinya supaya dia jera membuat kesalahan ?

Ya Allah, dewasakan suamiku. Sadarkanlah dia, bukalah cakrawalanya supaya dia tahu betul BAGAIMANA SEORANG SUAMI YANG BAIK itu bersikap, mengambil sikap, dan menjaga sikap.

Bukakan pintu hatinya, Ya Allah… Sadarkan dia dan berikan pengertian padanya. Istrinya sakit… sakit akibat ucapan2 menyakitkan yang terus-menerus dia ucapkan demi kepuasan hatinya yang sedang emosi.

Kau Usir, Aku Pergi… Selamat Tinggal

Terlalu banyak… terlalu sering dia melukaiku. Suamiku… orang yang aku cintai, selalu dengan entengnya melukaiku. Seperti malam ini, untuk kesekian kalinya. Dan…. TANPA PENYESALAN.

Kalimatnya hari ini, seperti yang sudah2… melukai, tepat di hati. Hari ini, dengan jelas dia mengusirku. Memintaku jangan datang padanya karena aku hanya pengganggu.

Selamat Tinggal...

Kau memintaku pergi dengan sangat jelas. Aku pergi. Seperti yang kau minta. Hatiku tahu, kau tidak membutuhkanku. Aku mencintai lelaki yang gemar kasar padaku, tanpa perasaan menyesal telah menyakiti hatiku. Seharusnya kau sadari, hati yang kau sakiti berkali2 itu bukan terbuat dari baja, sedikit demi sedikit kau telah menghancurkannya. Kau mengusirku, aku pasti pergi…

Tak pernah kubayangkan sosoknya yang sesungguhnya adalah pribadi keras yang mudah menyakiti hati wanita. Wanita yang dia minta dari seorang ayah untuk dia jadikan istrinya. Wanita yang mencintainya tapi disalahartikan sebagai beban, pengganggu olehnya.

Apa ini ujian-Mu, Ya Allah ? Kau berikan pada hamba jodoh yang sering melukai hati hamba dengan kalimat kasar, kalimat tajam yang seharusnya pantang diucapkan seorang suami pada istrinya sendiri ? Ya Allah, hamba sudah memintanya untuk menyadari dan mengurangi sikap dan sifat kurang pantasnya itu, tapi ternyata tak membuahkan hasil. Justru lara yang hamba tuai. Hamba serahkan pada-Mu, Ya Allah…

Hamba serahkan pada-Mu. Ketuklah pintu hati suami hamba supaya dia benar2 sadar, sikap kasar, kalimat kasarnya sangat tidak pantas. Dosa bagi seorang suami justru menyakiti hati istrinya dengan sengaja dengan maksud supaya jera. Bukakan pintu hatinya, Ya Allah… seorang suami yang baik adalah yang melindungi, menjaga dan mencintai istri. Bukan suami yang kasar dan enteng melukai hati istri tanpa penyesalan sama sekali. Hamba sudah tak sanggup menjalani kehidupan yang keras seperti ini. Mohon Kau berkenan membukakan pintu hatinya dan memberikan kesadaran padanya.

Kekeliruan yang tak pernah kau sadari… keputusanmu mengusirku jauh… aku pergi… seperti yang kau minta. Selamat tinggal. Jaga diri baik2, jaga hatimu baik2, jaga pola makan dan kesehatanmu baik2.

Selamat tinggal…

Suratku Untuk Suami

Berbicara… mengatakan secara verbal apa yang aku rasakan pada suami tidak memberikan impuls apapun padanya. Untaian kalimat yang kusampaikan sama sekali tidak menyentuh nuraninya sebagai seorang suami. Ungkapan hatiku yang kukirimkan lewat email karena saat ini kami jauh pun lagi2 tidak membuatnya menyadari betul seperti apa kalimat2nya sudah memporak-porandakan hati istrinya sendiri. Sekali lagi, kusampaikan isi hatiku pada suamiku lewat ‘surat’ ini, semoga kali ini dia tahu, benar2 menyadari… bahwa aku tidak sedang bercanda. Sakit hati itu ada.

“Mas, sebelumnya aku minta maaf… atas semua sikap, sifat dan perkataanku yang selama ini mungkin tidak baik sampai akhirnya mengantarkanku pada sebuah moment tidak menyenangkan buatku sendiri. Aku minta maaf karena saat ini aku masih banyak kekurangan menjadi seorang istri,mennjadi pendamping hidupmu.

Aku sadar, tidak menutup mata. Selama ini ada banyak yang kau berikan untukku, ada banyak yang telah kau korbankan demi aku. Aku bersyukur atas karunia jodohku yang baik, yang mau melakukan banyak hal untuk kebahagiaanku … kamu, Mas. Untuk itu, aku mengucapkan terima kasih, meski sesungguhnya kebaikanmu tidak bisa hanya dibalas dengan ucapan saja.

Menikah denganmu, menjadi istrimu adalah hal terindah yang akhirnya bisa menjadi kenyataan setelah kita melewati masa pacaran setahun lebih. Yang aku bayangkan dalam otakku adalah sosokmu selain sebagai figur WAJIB seorang suami yang penyayang, lembut, tanggung jawab pada istri dan keluarga yang hendak kau bangun, jujur, setia dan menjaga teguh komitmen pernikahan… aku juga menginginkan sosok kakak, sahabat paling dekat sekaligus figur ayah kutemui dalam dirimu. Tapi itu keinginan yang terlalu idealis. Mungkin tuntutanku terlalu banyak, seperti yang kau keluhkan padaku. Okelah, setidaknya figur suami dan seorang kakak bisa kau penuhi. Lebih sempit lagi, figur suami-lah yang WAJIB kau penuhi, mas. Aku gak terlalu rewel kan untuk hal ini ?

Menjadi seorang suami menurut pengetahuanku yang sempit adalah menjadi pelindung bagi istrinya. Kewajibanmu sebagai suami pada istri semestinya kau sudah tahu dengan jelas, Mas. Yang ingin (lagi) kuungkapkan padamu adalah aku ingin kau menghilangkan sikap kasar (secara verbal) dan dinginmu padaku. Sejak pacaran aku sudah sering mengingatkan, kendalikan ucapanmu ketika kau emosi. Ingat berapa kali kau sakiti aku secara verbal, kau pertaruhkan komitmen kita ketika emosimu melonjak tinggi ? kalau kau lupa, aku masih ingat, Mas. Empat kali kejadian memukul telak perasaanku. Rasanya sakit. Sangat sakit. Aku menangis… bukan sekedar menangis cengeng. Dan ini bukan sekedar lip service sekedar mengatakan ‘sakit’ padamu. Meski tak mungkin kau lakukan (tapi jika kau mau), kau bisa bertanya pada Bunda yang melahirkanmu, apakah pantas seorang suami sedikit2 mengumbar kalimat kasar ketika dia marah ? berkata kasar pada istri dan menggoyahkan komitmen berdua ?

Asal kau tahu, Mas. Menikah denganmu sama sekali tidak pernah terbersit ‘penyesalan’ dalam hatiku. Tapi aku seringkali kau suguhi dengan pengakuan penyesalan. Berulang kali kau katakan ‘di luar ada lebih banyak yang lebih baik’. Astaghfirullah… nyebut, Mas. Dalam keadaan sadarkah kau ucapkan itu ? ya, kau sangat sadar. Aku tahu itu. Dan kau tidak pernah merasa bersalah mengatai istrimu seperti itu. Tanyakan pada Bundamu, Mas… pantaskah seorang suami yang bijak berkata seperti itu ? Pantaskan seorang suami menyakiti istrinya seperti itu ? Aku kecewa… mohon diingat, BUKAN karena menikahimu tapi karena perlakuanmu padaku yang buruk. Melukai sebegitu dalam namun tak seujung kuku pun kau ada perasaan menyesal.

Yang aku inginkan sekarang adalah Allah SWT segera memberikan kepercayaan-Nya pada kita untuk mendapatkan keturunan. Semua orang menasehati, ‘kalo mau cepet hamil, selain wajib berdoa dan berusaha, jangan mikir yang berat2, mbak… jangan stress, juga kecapekan.’ Petuah-petuah macam itu jadi mengingatkanku, saat ini aku masih tak habis pikir kenapa Mas bisa memperlakukan aku seperti itu. Sedikit2 marah, mbentak, ato luweh2 kalo orang jawa bilang. Mas, aku minta, tolong hargai aku sebagai seorang istri. Perlakukan aku layaknya seorang suami bijak memperlakukan istrinya dengan baik. Aku tidak mau tiap hari harus berstatus ‘WASPADA’ pada kemarahanmu yang kadang muncul mendadak. Aku mau hidup tenang berkeluarga.

Aku ingin keluarga sakinah yang rukun. Aku ingin Mas bisa menerimaku apa adanya, tanpa sedikit2 membandingkan aku dengan wanita lain. Karena sekalipun aku tidak pernah dan tidak akan membandingkan kau dengan lelaki manapun. Aku menerima Mas apa adanya, tanpa kecuali, tapi jangan bersikap kasar dan egois. Bagiku suami yang mencintaiku, menerimaku apa adanya, penyayang, jujur dan setia pada komitmen pernikahan kita sudah lebih dari cukup, Mas. Jadilah seperti itu, Mas.

Aku minta… dengan sangat, dengan hormat.. kalopun egomu sebagai lelaki menganggap aku pantas mendapat hukuman darimu, ingatlah janjimu pada papa saat Ijab Qabul, didepan penghulu, disaksikan keluarga besar, janjimu pada Allah bahwasananya kau akan menjadi Imamku yang baik dan bertanggung jawab, mengajari istri, mendidik istri bukan dengan kekerasan verbal, tapi dengan kesabaran. Istri juga selayaknya kau hormati, Mas… Hargai dan perlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Aku nggak mau dan kapok dikit2 dibentak. Apa2 serba salah… Sudah cukup kau sakiti aku dengan hal2 kasar. Jangan ada lagi… Tolong…

Kalau Mas mencintaiku, seharusnya Mas takut melukai perasaanku. Mas membutuhkan aku. Mas ada perasaan ingin menjaga, melindungi dan menyayangiku. Mas ada rasa takut kehilangan aku. Hatiku bukan baja yang bisa terus digempur kekerasan ato di kondisikan dingin seperti dalam freezer. Aku, manusia, Mas. Yang bisa merasa sakit, beringsut ketika terus-menerus disakiti….

Aku mencintaimu, Mas… mencintaimu tanpa syarat… tapi bukan berarti aku mau dan rela untuk dikasari verbal ato diperlakukan cuek/dingin. Kita menikah untuk tujuan ibadah dan dalam ibadah setauku nggak ada unsur kekerasan, baik verbal apalagi fisik. Berlaku cuek satu sama lain.

Aku mencintaimu, Mas… dulu, sekarang, nanti, kelak dan seterusnya. Semoga kau juga sama… Dan tolong, bukalah pintu hatimu untuk bisa benar2 memahami rasa sakitku.

With Love… Piti.

Lara Hati

Kesel banget… suami yang aku kangenin ternyata malah bikin kesel, kecewa. Cuma karena dia dipuji temen cewek satu angkatan kalo dia kliatan muda, kelahiran ’86, dia jadi berbunga2, ngaca terus, keganjenan !

Jengkel ! ditunggu istri ,dikangenin istri tapi malah meleng cuma karena pujian kayak gitu…? selalu seperti ini.. gak tahan gempuran lawan jenis. Gampang leleh ato apa sih istilahnya…? sebel !

Jadi ilfeel, tapi dia mana mau tahu? yang penting dia dipuji kliatan muda, cakep mungkin, dipanggil ‘mas’ ama cewek gak jelas (lagi ????)

Hueeksss….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Jengkel abis ! Kok suamiku keganjenan gitu ?!

sedih…

Udah gitu, kemaren dia libur pengen ngajak makan di luar sebelum balik ke mess aja gagal karena dalih bla bla bla…

ditambah harus dicerca, dibanding2kan ama wanita lain yang lebih baik… Astaghfirullah… sakit sekali suamiku bisa berkata seperti itu.

Setelah aku berpikir semalam, aku terima.. aku ikhlaskan…
Aku memang yang terburuk diantara wanita2… Aku ikhlaskan… semoga Tuahn mengetuk pintu hatinya, membawanya pada suatu pemikiran ‘pantaskah seorang suami menghujat istrinya, membandingkannya dengan wanita lain, mengabaikan perasaan istrinya dan membuatnya sering terluka hatinya ?’

Semoga doa seorang istri untuk suaminya akan membuka jendela hati sang suami dan menjadikannya sosok imam, suami, kekasih, bapak, kakak sekaligus sahabat buat sang istri yang jujur, setia, lembut sabar dan penuh cinta kasih…

I Miss You

Kangen suamiku… itu judulnya hari ini.

Kamis pagi kemaren dia berangkat prajabatan. Sebelum berangkat kami sempat ribut. Salah paham aku pikir. Kami baru nikah beberapa hari dan mendadak ada pemberitahuan kalo dia harus berangkat prajabatan selama 23 hari. Glekk… kaget ! itu respon pertamaku. Ngomongin masalah kekagetanku ke dia malah akhirnya dibentak2. Sediiiiih banggetz 😦 Entah gimana dia menerjemahkan mewek-ku hari itu. Yang jelas rasanya berat ditinggal prajabatan selama itu. Baru seneng2nya nikah, ditemenin suami, ngladenin suami (meskipun masih acak adul sih hahahaaa…), mendadak harus ditinggal lama.

My lovely hubby with my father


Kamis pagi pun aku masih sempet nangis liat wajahnya. Bukan aku gak mendukung dia pergi. Aku mendukung kepergiannya prajabatan, cuma minta dia sedikit maklum kalo dia punya istri manja yang masih kaget mendadak ditinggal diklat beberapa hari setelah menikah. Aku seneng prajabatan yang biasanya dilakukan 1 tahun setelah SK CPNS, bisa maju lebih cepat. Aku seneng kalo akhirnya nanti suamiku lebih cepet jadi PNS. Aku seneng… Aku tidak sepicik yang dituduhkan padaku bahwa aku gak mendukung kemajuan karir suami. Tapi tak apalah.. tidak ada hal positif yang aku miliki. Setidaknya begitulah penilaiann yang aku dapet.

Sekarang hari sabtu.. menurut jadwal sih suamiku dapet ijin pulang. Asiiiiikkk 🙂 memang dah kangen suamiku sejak kemaren. Sayang, dia gak bisa pulang siang tadi, padahal dari beberapa narasumber yang udah pernah prajab bilang kalo hari sabtu jadwalnya cuma setengah hari n hari minggu full libur. Tapi kok ama dia nggak gitu yak ? kemaren nanya hal ini pun akhirnya ribut lagi. Hadeeeehhh… capek deh ribut terus 😦

Yang jelas sekarang aku lagi nunggu suami pulang… dah kangen banget. Tapi berani jamin, cuma aku aja yang kangen. Dia sih biasa aja. Dunia barunya kayaknya lebih menarik daripada istrinya yang gak dewasa ini 😦

Whatever…
Hubby… I miss You…

Wedding…

Aku semakin tidak paham dengannya. Menurut jalan pikiranku, ketika dua orang akan menikah, berarti bukan hanya antara pria dan wanita saja yang menikah, tapi juga antara dua keluarga jadi satu. Saat ada ganjalan, bukankah lebih baik diungkapkan ? apalagi dari satu pihak sudah membuka pintu untuk saling sharing. Bukannya diam, senyum seolah gak papa tapi nyatanya di laen kesempatan jadi bersikap gak begitu welcome.

Bukan cuma masalah keluarga aja, aku juga semakin gak jelas dengan sikapnya. Kenapa belakangan ini justru sering aku lihat sikap dinginnya ? semakin mendekati hari H kok justru ada masalah kayak begini sih ? Aku berusaha lugas berterus terang mengatakan keluhanku, tapi apa responnya ? kalo gak super flat ya jawaban mengambang ato cuma penjelasan secuil aja.

 

My dream about my wedding

Orang bilang kalo mau menikah, pasti ada aja kerikil2nya, malah jadi sering ribut. Mungkin juga sekarang yang aku alami sekarang tuh ya kayak gitu. Ribut2 kecil sih gak papa asal dua belah pihak tetep konsisten jaga hati, konsisten ama komitmen semula.

 

Menikah, bukan cuma antara aku dan dia. Tapi seharusnya juga antara dua keluarga. Ketika masih terjaga jarak, bukankah sepantasnya ada usaha untuk lebih menghilangkan jarak yang terbentang dan lebih menguatkan ikatan ?

Aku merasa dia seperti masih menganggapku asing karena dia sempat bilang kalo gak perlu terlalu jauh sampe level keluarga, hubungan kami pun ternyata masih perlu di perbaiki. Ternyata dia masih menganggap hubungan kami masih gak beres… padahal kami telah lalui sejauh ini dan menikah juga sudah ditentukan tanggalnya. Kenapa dia sampe hati mengatakan hal itu ?

Dia terlalu sering melukai hatiku tanpa dia sadari.

Ucapannya tentang komitmen sampe mati, gak akan ada pihak ketiga adalah peganganku. Peganganku sampe mati…

 

Miss You, Pooh…

Belakangan tiap kali mandangin wajahnya ada terselip rasa kangen. Aneh, dia di depan hidungku, tapi ada rasa kangen ke dia. Aku kangen sosoknya yang kalem, kangen dia yang ‘jaman dulu’ bisa romantis say I Love You, kangen dia yang dulu deh pokoknya 😦

Dia bilang dia bukan tipe yang romantis, tapi nyatanya dulu dia bisa se-romantis itu. Kenapa sekarang nggak bisa ya ? nggak bisa ato nggak mau ?  kadang pengen juga dia sekali-sekali kasih kejutan romantis apaaaa gitu :-p (iihhh…. ngarep hahahahaaa….) Jadi cewek kan pengen juga ngerasain dapat kejutan romantis dari pasangannya ? Tapi jadi sedih kalo inget harus merengek sampe bibir jontor pun kadang gak dapet apa yang di minta 😦

Kalo boleh teriak kenceng2 supaya dia tahu, I Miss You Pooh….. !!!!!!!!!!

Pooh, I Miss You

Aku ngerasa kangen sama Pooh, tapi dia bahkan mungkin gak pernah kepikiran kangen ama aku karena tiap hari ketemu 😦 sedih juga ketika sadara aku mencintai pria yang kadang mungkin merasa eneg ama aku, pria yang gak pernah bener2 takut kehilangan aku, pria yang mungkin kadang berpikir ingin jauh dariku karena aku terlalu manja, egois, dan membatasi ruang geraknya… sedih karena dia nggak pernah menilaiku positif.

Bilang on air ke dia mungkin cuma dibilang lebay, di ketawain, ato malah no response 😦 tapi nyatanya aku kangen ama Pooh yang manis, kalem, gak sekeras sekarang, yang dulu begitu lugu say I Love You. Sekarang untuk tiga kata itu aja, aku sendiri yang harus minta, malu-maluin 😦 tapi dia memang gak pernah bilang.

Did i lose my Pooh ? 😦

Semua ku lakukan untuk memberi stimulus padanya supaya dia bisa memperlakukan aku seperti itu juga, tapi dia gak paham2 juga 😦

Pooh, i really miss you….