Sejauh-jauhnya… (Part 2)

Disakiti bertubi2 oleh pria yang sungguh2 dicintai ternyata sangat menyakitkan. Lebih baik mati dari pada hidup tertekan seperti itu. Toh dia tidak pernah memikirkan sakit yang aku tanggung dari ucapannya. Aku mungkin berdosa, tapi dalam keadaan tertekan seperti sekarang, mataku hanya tertuju pada sesuatu di sudut ruangan kamar yang bisa mengantarkan aku pada pembebasan dari segala rasa sakitku. Sesuatu yang akan memisahkan aku darinya, selamanya. Barangnya ini ditanganku, tapi belum cukup keberanianku untuk melakukannya sekarang…

Aku nggak tau sebesar apa dosa yang harus aku tanggung nanti jika aku benar2 melakukannya besok. Tapi hatiku sudah tak sanggup lagi. Aku sepantasnya dicintai, dijaga, disayang dan dilindungi. Bukan disakiti sesering ini.

Sejauh-jauhnya darimu… aku pikir hanya satu cara. Dengan ‘barang’ ini, kau bisa jauh dariku. Kau tak akan lagi menemukan pengganggu sepertiku. Kau nggak perlu marah2 lagi pada orang bodoh manja sepertiku. Sekali lagi kau sakiti aku, kau memberiku keberanian untuk melakukannya.

Aku mencintaimu, tapi luka demi luka kau sematkan padaku. Aku belajar… jangan kuatir.. aku belajar memberanikan diri melakukannya, mengakhiri semua ini dengan adil. Aku yang pergi, kau yang hidup. Aku lelah meminta padamu untuk berhenti menyakitiku, kasar padaku.

Yang kupikirkan sekarang hanya jalan itu… jalan untuk menjadi sejauh-jauhnya darimu.

Iklan

Sholat dan Disholatkan

Hari ini dalam sejarah hidupku, seseorang berkata begitu tajam padaku. Penyebabnya adalah aku yang gak solat maghrib, bukan tanpa sebab… abis pre wedding photo session, tukak lambungku mendadak kumat. Buat penderita tukak lambung, pastinya bisa membayangkan gimana rasanya kalo kumat, tapi bagi orang yang taunya cuma itu sejenis sakit perut biasa, bisa dipastikan bakal sotoy bilang bisa di handle-lah sakitnya.

Absen sholat maghrib mengantarkanku pada sebuah statement yang gak aku sangka sebelumnya bakal dilontarkan oleh orang yang seharusnya memberikan aku dukungan menghadapi penyakitku.

Mau Sholat atau Disholatkan ?

“Pilihan orang hidup itu ada 2, hanya dua. Selagi orang itu masih bisa melek, napas, dia berkewajiban melakukan SHOLAT 5 waktu, bagi yang meninggalkannya, berarti dia sudah enggan menyembah Allah, dengan kata lain dia sudah pantas DISHOLATKAN.”

Dia bicara begitu enteng seolah orang yang sedang dia hakimi adalah orang yang seger buger gak lagi menghadapi dilema akan sakitnya. Dia tidak pernah tau rasanya ketakutan ketika mendapati darah tiba-tiba keluar tanpa sebab. Dia tidak pernah tau rasanya pesimis menghadapi penyakit yang seharusnya tak lagi kembali dalam hidup tapi tiba-tiba menyeruak datang merusak semua planning hidup yang sudah dirancang jauh hari. Dia tidak pernah mengalami, hanya tau mengkritik orang yang sering mengeluh sakit.

Orang tuaku… yang melahirkanku, memberiku makan, membesarkanku, merawatku ketika aku keluar dari rumah sakit, mendidikku sejak kecil, bahkan tidak pernah sekalipun lelah merawatku meski sering terkendala sakit. Mereka tidak pernah menyerah mengupayakan kesembuhanku, mereka selalu mensupport semangat hidupku, mengajariku untuk optimis sembuh, tapi orang yang baru kurang dari 2 tahun aku temui bahkan sanggup menghakimiku seperti itu dengan nasehatnya yang dia sampaikan tanpa rasa tepo seliro.

Dia bilang wajar saja menasehati dengan cara bicara se-extrim itu, aku pikir mungkin aku yang terlalu menanggapi berlebihan, tapi seorang ibu yang mengandungku 9 bulan lebih 10 hari, yang melahirkanku tapi juga biasa keras padaku pun menilai dia terlalu kasar. Nggak bisa menerima anaknya dinasehati se-fanatik dan sekeras itu. Bahkan orang tuaku pun nggak terima, tapi dia bilang PETUAHnya itu wajar, biasa saja.

Aku tidak pernah tau sesungguhnya seperti apa dia mencintaiku kalo dia bisa sekasar itu bicara padaku. Dia pernah mencaciku aku ini orang jalanan, sekarang dia berpetuah arif bahwa aku mengindikasikan diriku siap disholatkan… Dia menampik dirinya berkata seperti itu, tapi dalam hati kecilnya memang itulah yang sesungguhnya dia ingin katakan padaku. Aku sudah menangis. Menangis sedih, menangis kecewa, menangis kaget, menangis putus asa, menangis pesimis… Tidak dia dengar.

Doaku, semoga Papa dan Mama diberi umur panjang. Jika seandainya hari itu tiba, aku harus terbaring sakit, aku masih bisa kembali ke pangkuan orang tuaku, aku masih bisa dirawat oleh tangan penuh kasih ikhlas mereka.

Papa, Mama… Rasa kaget kalian sama besar dengan kekecewaanku dengan sikapnya…